Home  / 
Satgas Pangan akan Tangkap Penimbun Beras
Rabu, 17 Januari 2018 | 17:28:41
Jakarta (SIB) -Satuan Tugas (Satgas) Pangan ikut angkat bicara soal rencana pemerintah mengimpor 500.000 ton beras dari Vietnam dan Thailand. Impor dilakukan karena pemerintah tak ingin kekurangan stok menjelang panen Maret nanti serta untuk mengantisipasi lonjakan harga beras.

Satgas Pangan juga memastikan saat ini tak ada yang menimbun beras dan jika ada yang melakukannya bakal langsung ditangkap.

"Satgas pangan itu bertugas mengawasi distribusinya selain kita mengecek ketersediaan stok. Kita mendapatkan fakta, memang di lapangan, ada panen, tetapi panennya tidak panen raya karena saya juga diajak ke (lumbung beras di) Karawang, Jawa Barat oleh Menteri Pertanian beberapa hari lalu. Kalau panen raya kan pasti luas," kata Ketua Satgas Pangan Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Selasa (16/1).

Terkait stok, Setyo menambahkan jika stok di beras di pedagang dalam jumlah berlebih pasti sudah tidak ada karena pedagang sekarang tidak berani menyetok beras. Pertimbangannya karena pedagang memperoleh modal menggunakan pinjaman bank yang ada bunganya.

"Beras juga kalau disimpan lama pasti rusak dan sekarang kalau mau dijual harga eceran tertinggi-nya (HET) sudah ditetapkan. Makanya sekarang pedagang sudah nggak ada yang berani menimbun. Kalaupun ada yang menimbun pasti kami tangkap," tegasnya.

Satgas pangan efektif dan ekstensif karena levelnya sampai di tingkat Polres. Stok beras, masih kata Setyo yang juga Kadiv Humas Polri ini, ada di Bulog. Pertanyaannya adalah berapa stok yang dimiliki Bulog saat ini?

"Kebutuhan kita, sebulan, ada 2,5 juta ton se-Indonesia. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia adalah 250 juta orang dan kebutuhan per orang dalam satu bulan itu rata-rata 10 sampai 11 Kg makanya ketemu 2,5 juta ton. Kita harus cek saja berapa stok yang ada saat ini. Stok di Bulog kemarin terakhir menyampaikan 900.000 ton," imbuhnya.

Saat disinggung jika ada indikasi permainan dalam rencana impor beras, Setyo menjawab akan mengecek di lapangan. Dia tidak bisa menyatakan ada atau tidaknya dengan alasan tidak mau berpolemik. Yang jelas, fakta di lapangan, stok beras di Jakarta cukup, tapi di beberapa daerah kurang.

"Harga gabah sudah naik mencapai Rp 7.000 per Kg, ada yang mengatakan itu bagus untuk petani dan bisa sejahtera. Tetapi gabah ini tidak bisa diolah oleh penggiling padi menjadi beras medium karena harga (jualnya) nantinya pasti di atas Rp 13.000. Jadi beras medium memang kosong," tambahnya
Menurut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras (HET) membagi beras menjadi medium dan premium melalui butir patah (menir) maksimal. Beras jenis medium artinya dalam 1 Kg butir patah maksimal yang ditentukan oleh pemerintah sebanyak 25 persen.

Sedangkan beras premium adalah jenis beras yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen dan butir patah maksimal 15 persen. HET beras medium antara Rp 9.450-10.250 per Kg tergantung daerah sedangkan beras premium antara Rp 12.800-13.600 per Kg.

"Yang jelas saat ini saya bisa pastikan nggak ada penimbunan," tegasnya.

Impor beras yang dilansir pemerintah menuai kritik pedas. Awalnya impor 500.000 ton beras khusus dari Vietnam dan Thailand akan dilakukan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (persero), bukan Bulog. Impor dilakukan karena pemerintah tak ingin kekurangan stok menjelang panen Maret nanti serta untuk mengantisipasi lonjakan harga beras.

Ombudsman RI langsung menyatakan, telah menemukan gejala maladministrasi dalam pengelolaan data stok dan rencana impor beras. Telah terjadi penyampaian informasi stok yang tidak akurat kepada publik, pengabaian prinsip kehati-hatian, dan penggunaan kewenangan untuk tujuan lain. Selain itu, terjadi penyalahgunaan kewenangan, prosedur tak patut/pembiaran, dan konflik kepentingan.

Lantas Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan bahwa kredibilitas data produksi beras yang dipublikasikan oleh BPS dan Kementerian Pertanian, rendah. Padahal data ini yang menjadi acuan untuk impor. Sejumlah pengamat menyebut bahwa impor beras sebanyak itu berpotensi menghasilkan keuntungan sampai angka triliunan rupiah. (SP/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Dua Bulan Berjuang, Bocah Penderita Gizi Buruk di Tanjungbalai Meninggal
Ketua Ardindo Suyono RW: Masyarakat Asahan Harus Bijak Menggunakan Medsos
Santuni Anak Yatim Warnai Reses Jainal Samosir di Simandulang
PLN Bantu Pembangunan Jalan Menuju Lokasi Wisata Air Terjun Simonang-monang
Akibat Dahsyatnya Erupsi Sinabung, Tanaman Rusak Petani Menjerit
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU