Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
RENUNGAN
Yesus Penista Agama?
* Oleh Sunggul Pasaribu,MPAK
Minggu, 16 April 2017 | 20:31:45
Peristiwa kematian Yesus diperingati untuk mengenang bagaimana Allah melakukan tugas penyelamatan atas dosa manusia. Kematian Yesus dirayakan bukan sebagai upacara seremonial belaka tetapi sebagai bukti kurban Allah pada diri Yesus di kayu Salib. Maka tiap kali orang Kristen merayakan paskah, kita diingatkan bahwa domba sembelihan paskah di dunia Perjanjian Lama penggantinya di dunia Perjanjian Baru ada di dalam Yesus yang rela mati.

Jika kita memandang salib, tentu hati ini merasa miris, koq tega ya mereka menyalibkan Yesus yang tidak berdosa? Di dunia ini, mana mungkin ada orang yang mau disalibkan, jangankan mati tergantung di kayu salib. Hidup menderita, susah, atau sakit pun pasti manusia menghindarinya.

Menjadi pertanyaan, mengapa Yesus mau disalibkan? Jawabnya, inilah bentuk kasih dan kesetiaan sang Anak bahwa peristiwa salib adalah rencana dan karya keselamatan Allah di dunia ini. Sejak jaman Perjanjian Lama, Allah menetapkan Yesus untuk mengemban salib dengan mahkota duri di kepalaNya. Kenyataan dan fakta ini terjadi supaya terbentang dosa manusia yang harus ditebus.

Pasal-pasal Penistaan Agama yang Dituduhkan
Pertama, Saber (sapu bersih) Bisnis di Bait Allah. Kita dapat melihat bagaimana fungsi Bait Allah yang seharusnya sebagai simbol kehadiran Allah, tempat bertemu Allah, tempat beribadah, untuk memuji dan memuliakan Allah. Akan tetapi Yesus mendapatinya berubah menjadi tempat bisnis (semacam bursa perdagangan), di sana terlihat para pedagang berjualan burung merpati dan anak domba. Lalu Yesus marah, mengobrak-abrik meja-meja dan barang dagangan mereka dan mengusir mereka (Markus 11:15-19). Menurut Markus 11:18, para imam dan Ahli Taurat marah besar kepada Yesus dan sejak peristiwa tersebut maka mereka pun berniat akan membinasakan Yesus.

Kedua, Kuasa pengampunan. Ketika Yesus memateraikan pengampunan terhadap orang yang sakit lumpuh di Nazareth maka Ahli Taurat pun menuduh Yesus telah menghujat Allah (Matius 9:1-8). Menurut pandangan elit agama, Ahli Taurat, bahwa kuasa pengampunan hanya boleh dilakukan oleh Allah, bukan Yesus. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa melakukan kehendak Allah. Mereka lupa dengan ajaran Yesus dalam doa Bapa kami, menyebutkan, "Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami."

Ketiga, Pelanggaran terhadap Sabbat. Kali ini Yesus memasuki rumah ibadah pada hari Sabbat, lalu Ia menemukan di situ seorang yang mati sebelah tangannya. Pada saat itu juga Yesus pun melakukan penyembuhan kepadanya, dengan berkata,: "Mari, ulurkanlah tanganmu, maka seketika itu juga sembuhlah tangannya" (Markus 3:1-6). Apa yang terjadi di Bait Allah? Maka orang Farisi pun mulailah bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus (Markus 3:6). Alasannya, karena Yesus bekerja pada hari Sabbat. Yesus tidak merasa bersalah sebab apa yang dilakukanNya untuk menyelamatkan nyawa orang. Bagi Yesus jauh lebih penting nyawa manusia daripada ketaatan terhadap agama semu.

Puncaknya, Yesus disalibkan di atas Bukit Golgota. Perkiraan orang yang memusuhi dan menyalibkan Dia bahwa Kerajaan Allah segera akan berakhir di atas kayu Salib. Itulah sebabnya mereka mengolok-olok Yesus di kayu Salib. Mereka lupa bahwa dari atas kayu salib itu, ada keselamatan, ada doa, ada suara yang perlu didengar sebagai nasehat dan pengajaran kepada orang tua dan anak, ada kata maaf. Bagi manusia seringkali ajaran agama dijadikan sebagai alat dan sarana politik. Karena elit agama Yahudi tidak mampu memberangus Yesus maka mereka memakai penguasa Romawi melalui elit politik dan lembaga keagamaan (Samhedrin) serta elit agama untuk menyalibkan Yesus. Benar.! Di Bukit Golgota Yesus disalibkan untuk memberangus kerajaan Allah, tetapi dari Golgota Allah berbicara dan menyatakan kemuliaanNya.

Dia pun menghadapi dengan rela, setia dan penuh wibawa rohani. Memang, sebagian manusia di kala itu ada yang merasa puas dan terlampiaskan nafsunya untuk memberangus missi Kristus di dunia ini. Namun dari kayu salib itu pun terdengar suara nyaring berisi doa, harapan, dan pengungkapan tabir Allah terhadap kerajaan dunia.

Peristiwa keIllahian di atas Salib
Ketika Salib yang dijatuhkan sebagai hukuman kepada Yesus, kita diingatkan dengan kekejaman, kekejian dan ketegaan penguasa politik dan pejabat agama Yahudi terhadap Yesus. Tetapi apa yang terjadi dari Salib di Golgota?

Yesus masih sempat berdoa di tengah sakit dan menjelang kematian yang tersiksa itu (Lukas 23:46). Dan beberapa kata-kataNya yang dicatat menunjukkan lebih banyak kepedulianNya bagi orang-orang lain daripada bagi diriNya sendiri (Lukas 23:34,43), meskipun ada seruan yang kuat, Ia berkata : "Ya, AllahKu, ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku (Markus 15:34). Kemudian segera kengerian itu berlalu dan sewaktu kekuatan Yesus akhirnya menyurut. Dia pun mengucapkan kata kemenangan: "Sudah selesai" (Yohannes 19:30).

Semuanya begitu luar biasa sehingga perwira Roma pun yang mengepalai regu eksekusi, yang sudah sering menyaksikan orang disalibkan, terkesan : "sungguh Dia tidak bersalah", kata laporan Lukas. Sedangkan Markus melaporkan bahwa ia berkata : "Memang benar orang ini Anak Allah" (Markus 15:39, Lukas 23:47).

Penutup
Peristiwa Paskah (Kematian Yesus di kayu Salib) bukan hanya sebagai peristiwa Kristologis sebagai wujud keselamatan dan penyelamatan manusia atas dosa-dosanya. Tetapi untuk merepresentasikan perilaku manusia dalam realitas keberdosaannya dalam aspek agama, sosial, budaya dan politis. Hal ini terungkap setelah kita membaca urutan peristiwa yang dialami Yesus sejak dari pertentangan dogmatis antara ajaran Yesus dengan agama Yahudi, pertikaian politis antara pemerintahan Romawi dengan missi Kerajaan Allah, serta aspek demokratis yang hanya berpihak kepada kepentingan penguasa yang lalim. 

Padahal Yesus cukup berjasa dalam pelayan dan pembangunan rohani umat manusia, yang awalnya di Yerusalem, Galilea dan Yudea, barulah ke seluruh dunia. Oleh karena itu, Dia yang telah melakukan berbagai perkara besar kepada umat manusia, marilah kita berkomitmen dengan menyatakan: "Sungguh, benar, Dia adalah Anak Allah rela mati untuk menebus dosa kita". Amin! (Penulis, Dosen Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Longsor di Jember, 3 Orang Dilaporkan Tertimbun
Tiang LRT Timpa Rumah, Polisi Periksa Operator
Ada 2 Kader NU yang Bertarung, JK Nilai Pilgub Jatim akan Menarik
KPK Periksa Direksi dan Karyawan PT CGA Terkait Kasus Bupati Rita
Tak Bawa Senter Saat Cari Ikan, Guru Honorer di Aceh Diterkam Buaya
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU