Gereja Katolik Tidak Mengakui Perkawinan Sejenis

Minggu, 5 Juli 2015 | 15:59:20


Jakarta (SIB)- Rohaniwan Katolik Pastor Antonius Benny Susetyo mengatakan Indonesia tidak akan mungkin melegalkan perkawinan sejenis karena memegang kuat norma-norma agama.

"Perkawinan sejenis jelas bertentangan dengan Pancasila yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa. Seluruh agama di Indonesia pasti menentang perkawinan sejenis," kata Benny Susetyo dihubungi di Jakarta, Jumat.

Karena itu, menurut Benny, pelegalan perkawinan sejenis di Amerika Serikat tidak akan berpengaruh terhadap Indonesia. Apalagi, dia menilai pelegalan perkawinan sejenis di negara tersebut lebih disebabkan faktor politis.

"Yang sedang berkuasa di Amerika Serikat saat ini adalah Partai Demokrat yang lebih liberal. Dalam kampanyenya, Barrack Obama memang sudah menjanjikan akan melegalkan perkawinan sejenis," katanya.

Benny mengatakan di Amerika Serikat keputusan itu pun menimbulkan pro dan kontra karena tidak semua orang menerima. Karena itu, sangat mungkin keputusan itu dianulir(dibatalkan) bila Partai Demokrat sudah tidak lagi berkuasa di negara itu.

"Bila Partai Republik yang berkuasa, sangat mungkin mereka akan mengubah keputusan itu. Partai Republik selama ini lebih menjunjung norma, berbeda dengan Partai Demokrat yang lebih liberal," tuturnya.

Benny mengatakan gereja Katolik, mengikuti sikap Tahta Suci Vatikan dan Paus, sejak awal tidak akan mengakui perkawinan sejenis karena menyalahi kodrati manusia yang diciptakan Tuhan berpasangan laki-laki dan perempuan.

"Namun, gereja tetap menghormati dan mencintai kelompok-kelompok penyuka sesama jenis dan merangkul mereka sebagai manusia," tuturnya.

Menurut Benny, perkawinan adalah buah dari prokreasi antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, perkawinan sejenis bertentangan tentang penciptaan manusia oleh Tuhan karena akan mengaburkan identitas laki-laki dan perempuan.

"Selain itu, perkawinan sejenis juga akan menghilangkan makna keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Anak yang hidup dalam keluarga dari orang tua sejenis akan kehilangan figur ayah atau ibu," jelasnya. 

PGI Belum Bersikap

Kontroversi pelegalan pernikahan sesama jenis menjadi polemik di masyarakat. Menanggapi hal ini, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada aturan yang membenarkan pernikahan sejenis di Indonesia.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat PGI, Jeirry Sumampow mengatakan bahwa, belum ada aturan resmi dari PGI yang mengiyakan pernikahan sejenis.

Menurutnya, pro dan kontra atas isu ini tidak hanya terjadi di masyarakat. Jeirry mengungkapkan bahwa kontroversi yang sama juga tengah berlangsung di kalangan gereja. Meskipun begitu, dirinya tidak memaparkan gereja mana yang setuju atau menentang pernikahan sesama jenis.

"Kita masih dalam proses untuk melakukan kajian karena di lingkup PGI hal itu masih kontroversi dengan beberapa pertimbangan," ungkap Jeirry. Beberapa pertimbangan yang disebutkannya antara lain, menyangkut perspektif teologi, hak asasi manusia, dan budaya di Indonesia.

"Menghadapi problem ini kita juga cukup dilematis memutuskan sikap membenarkan atau melarang," terangnya. Oleh sebab itu, PGI masih belum menyatakan sikap untuk kesetaraan pernikahan yang belakangan digencarkan oleh kelompok lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) tersebut.

Gereja Filipina Menolak

Filipina merupakan negara bekas jajahan Amerika Serikat selama 50 tahun. Menanggapi legalisasi pernikahan sesama jenis di AS, juru bicara kepresidenan Filipina Herminio Coloma Jr, mengungkapkan bahwa negaranya tidak mungkin setuju dengan yang dilakukan AS.

Menurutnya, isu ini bertentangan dengan hukum di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik tersebut. "Hukum kami sudah jelas. UU Perkawinan hanya mengakui pernikahan di antara seorang pria dan seorang wanita," ungkapnya dalam wawancara di radio (29/6).

Tanggapan yang serupa juga datang dari para uskup di Filipina. Ketua presidium konferensi waligereja Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas, dalam pernyataannya menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mempertahankan ajaran yang sesuai kebenaran Injil dan misi gereja. "Pernikahan adalah persatuan permanen pria dan wanita, dalam saling melengkapi jenis kelamin," tulisnya.

Meskipun begitu, dirinya juga meyakinkan bahwa Gereja Katolik tidak akan mendiskriminasi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan trangender (LGBT). "Semua akan terus diterima di Gereja. Sementara, di bawah perintah Tuhan sendiri, akan terus mengajarkan apa Gereja lakukan tanpa henti," katanya.

Di pihak lain, umat Katolik konservatif mengaku khawatir dengan pelegalan pernikahan sesama jenis ini akan mengarah pada legalisasi aborsi. "Ini jelas bertentangan dengan Kitab Suci," ungkap seorang jemaat di Tacloban City. (Ant/JC/Rep/Ucanews/y)




BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI

Kembali