Tidak Ada Kapal Penumpang Layak, Masyarakat Pulau Tello Kesulitan Bepergian Keluar Pulau

Rabu, 15 Januari 2014 | 12:23:00

Foto: SIB/Ist. / Pulau Tello: Pulau Tello yang berjarak tempuh sekitar 6 jam menggunakan kapal laut dari pusat pemerintahan di Telukdalam.

Nisel (SIB)- Masyarakat Pulau Tello Nisel kini resah dan kesulitan jika hendak bepergian keluar pulau itu karena ketiadaan kapal penumpang fery yang melayani jalur Tello dan daerah kepulauan sekitarnya. Saat ini masyarakat menggunakan perahu kayu yang dapat mengancam keselamatan di tengah lautan bebas.

Salah seorang tokoh masyarakat pulau Tello yang juga menjabat Kepala Desa Baboofulao Kecamatan Tanah Masa, Taksir Bago, Minggu (12/1) di Telukdalam mengungkapkan, saat ini tidak ada kapal penumpang yang layak semisal feri, berlayar ke Pulau Tello, sementara masyarakat di daerah itu memiliki kesibukan di luar pulau seperti di Telukdalam, Gunung Sitoli dan Sibolga.

Dengan ketiadaan kapal penumpang, mau atau tidak mereka harus menggunakan jasa kapal kayu sederhana dengan waktu tempuh sekitar 5 jam perjalanan ke Telukdalam, lalu melanjutkan perjalanan ke daerah lain.

Diterangkan, menggunakan kapal kayu merupakan langkah mempertaruhkan nyawa, mengapa tidak, perjalanan Tello-Telukdalam yang memakan waktu setengah hari dan harus berhadapan dengan ancaman bahaya di tengah lautan luas. “Kadangkala di tengah laut ada badai sehingga kapal yang ditumpangi masyarakat kerap ada masalah seperti angin dan ombak tinggi dengan kondisi demikian penumpang sangat panik, begitulah penderitaan yang kami alami menumpang kapal kayu,” terangnya.

Pernah suatu ketika disebutkan kapal yang ditumpanginya menuju Teluk Dalam dihadang ombak besar, mereka terjebak di samudera luas yang merupakan lautan bebas dengan panik masyarakat menjerit dan mengira kapal kayu akan dihempas ombak, beruntung kala itu pemegang kemudi dengan bersusah payah mampu menuntun kapal ke sebuah pulau kecil tidak berpenghuni, kejadian seperti itu pun disebutkan telah menjadi “sarapan” masyarakat.

Sehingga masyarakat enggan ke seberang pulau untuk melakukan aktifitas, baik berjualan, mengunjungi family membuat kualitas kehidupan masyarakat rendah dan sulit berkembang.

Oleh karena itu ia berharap, saatnya pemerintah memikirkan kebutuhan kapal penumpang yang layak untuk melayani jurusan Pulau Tello, keberadaan feri kelak akan menghilangkan trauma masyarakat, merangsang kembali minat masyarakat bepergian keluar pulau untuk melakukan aktifitas dan pekerjaan masing-masing sesuai profesi dengan demikian akan mensejahterakan keluarga masing-masing.

Sementara ketika diminta tanggapan Kadis Perhubungan Nisel Aladin Buulolo SPd mengaku telah menyurati Kementerian Perhubungan berkali-kali untuk mengadakan kapal feri ke Pulau Tello, terakhir surat dilayangkan pada November 2013, namun hingga kini belum mendapat tanggapan. “Kami akan terus melakukan berbagai upaya agar ada feri berlayar ke Tello,” jawabnya.

Anggota DPRD Nisel asal Dapil Pulau Tello, Meywati Fanaetu juga mengakui jika ketiadaan kapal penumpang layak menyebabkan kesusahan bagi warga, masyarakat jadi enggan beraktifitas keluar pulau sehingga pendapatan keluarga susah berkembang, sementara di Pulau Tello tidak banyak sumber mata pencaharian.

Ia berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait memikirkan daerah terluar seperti Tello, Kementerian diminta turun ke Nisel dan melihat kehidupan masyarakat Tello yang jauh dari jangkauan sehingga butuh sarana transportasi laut yang layak.

Pulau Tello merupakan daerah kepulauan di Nisel, seluas 14 KM persegi berada pada arah barat daya Nisel, Pulau tersebut terdiri dari 7 kecamatan dan ratusan desa. Untuk menempuh Tello dari pusat pemerintahan Nisel dibutuhkan waktu perjalanan setidaknya setengah hari menggunakan kapal laut mengarungi lautan.

Di sekitar Tello juga terdapat sejumlah pulau lain yang masuk kawasan Nisel antara lain Sifika, Pulau Biang, Pulau-pulau Batu, Tanah Masa. Warga di daerah tersebut mengeluhkan permasalahan yang sama bidang transportasi laut. (C9/q)





BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI

Kembali